Camping Homeschooling Camp Book 9

Aku, Ira, kemarin melaksanakan kegiatan camping homeschooling camp book 9. Camping itu di adakan di Punceling, Ciwidey. Pada hari Selasa s/d Kamis. Tanggal 12-14 Desember 2018.

Aku tergabung di kelompok Anggrek. Awalnya, namanya Anggrek Biru. Namun, warna biru telah di pakai oleh kelompok Kak Fauzi. Akhirnya, kami mengalah, kelompok kami di ganti menjadi ANGGREK HIJAU!! (Jeng, jeng, jeng).

Kelompok Anggrek Hijau terdiri dari delapan orang. Empat orang siaga, dan empat orang penggalang. Penggalangnya terdiri dari, Zahra, Terra, Nisrin, dan Aku. Dan siaganya, Zainab, Adel, Erin, dan Avia. Kami menunjuk Zahra sebagai ketua.  Namun sayangnya, Adel tidak bisa ikut karena demam.

Tibalah waktunya berkemah. Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 06:30. Ketika sampai TL, ada banyak anak yang sudah datang terlebih dahulu.

Setelah jemputan datang, kami segera naik dan pergi. Ada satu truk pick up, lima angkot, dan satu mobil HIACE. Mobil HIACE dan pick up adalah sumbangan seorang orangtua yang baik. Setelah mobil-mobil itu datang, kami dibagi dan diatur. Barang-barang kami dimasukkan dan diikat di pick up. Dan manusianya ditaroh di mobil. Alhamdulillah, aku kebagian kursi di HIACE. Aku duduk bersama Nisrin, dan Evelyn, adik Nisrin.

Setelah sampai di lokasi, kami membereskan barang. Lalu, setelah itu kami mendirikan tenda dan membereskannya. Dan, mohon maaf, aku lupa lagi sesudah ini kita ngapain aja(hehe, skip).

Sesudah beres semua, kami di bagi ayam. Oya, aku lupa jelasin. Camping kali ini, kita nanti di kasih ayam. Ayamnya itu ayam yang masih hidup lho. Ayam itu harus kita sembelih sendiri, bersihkan sendiri, dan mengolahnya sendiri. Nah, kalau hari kedua, dikasihnya ikan. Kita dikasih ikan hidup-hidup aja gitu. Terus, kita bersihkan sendiri, lho.

Sesudah dibagi ayam, kita makan siang. Setelah makan siang, tiba-tiba hujan deras. Hujannya sangat besar dan lumayan lama. Kami menunggu sampai hujannya reda. Kasihan, lho. Ayamnya kedinginan. Untung kita bikin atap untuk ayamnya. Jadi, ayamnya gak akan kehujanan, deh.

Setelah hujan reda, kita akan naik ke bukit. Bukitnya namanya bukit keraton. Bukit ini dekat sekali dengan perkemahan kita.

Kami disuruh berbaris. Yang jalan paling depan adalah kakak penegak. Lalu, disambung oleh regu Anggrek Hijau. Dan di belakang kami berbaris regu-regu yang lain.

Lalu, setelah itu, tanpa iklan lagi, kita langsung naik ke bukit. Lumayan, agak susah gitu naiknya. Jalannya berbatu. Batunya besar-besar lagi. Terus, berkelok-kelok dan sangat curam. Kalau kita kepeleset sedikiit saja. Wah, langsung menggelinding, deh, ke bawah.

Setelah sampai di atas, semuanya bersorak. Di atas kita berunding tentang yel-yel regu kami, dan juga mempersiapkan penampilan untuk api unggun.

Setelah agak lama kemudian, kami disuruh turun. Turunnya agak bahaya nih. Aku ditugasi menjaga salah satu adik siaga. Begitu juga teman penggalang yang lain.

Setelah turun dari bukit, kita ngapain coba? MENGURUS AYAM! Wah, betul sekali.

Sebelum menyembelih ayam, dari tadi, kita sudah membuat lubang. Lubang itu nanti akan menjadi tempat menyimpan darahnya ayam, dan jeroannya.

Karena tak ada satu pun yang berani menyembelih di regu kami, maka, kita memutuskan untuk meminta bantuan kelompok putra. Selagi menunggu ayamnya beres, yang lain memasak nasi dan membuat air panas untuk dimasuki ayam.

Memproses ayam ternyata sangat lama. Pertama, kita harus memutuskan tiga urat yang ada di tenggorokan ayam. Agar ayam tersebut mati. Kedua, kita mencelupkan ayam yang sudah mati ini ke air yang berisi air panas. Cara ini dilakukan agar bulu ayam mudah dicabut. Ketiga, tentu saja kita harus mencabuti bulu ayamnya. Dan jangan sembarang cabut, ya. Harus cabut kearah tertentu.  Mencabut bulu ayam ternyata lamaaaa… sekali. Setelah ayamnya bersih dari bulu, kita harus mengeluarkan jeroannya.

Setelah tubuh ayamnya bersih, baru deh, kita potong kecil-kecil. Setelah dipotong kecil-kecil, kami merebus ayamnya sebentar. Lalu, kami olah menjadi soto ayam.

Setelah soto ayamnya jadi, kami langsung makan sore. Setelah makan, kami di beri ikan dan disuruh langsung membersihkannya dan mebumbuinya. Ikan itu adalah menu buat besok.

Siaga kami suruh tunggu di dalam tenda. Matahari terbenam. Dan kita yang penggalang membersihkan ikan.

Ketika sedang membersihkan ikan, yang penggalang ternyata di suruh kumpul di mushola. Sedangkan yang siaga tunggu aja, ya.

Di mushola kita evaluasi kecil-kecilan. Tapi nggak semua di evaluasi lho. Karena waktunya terbatas dan peserta yang banyak.

Setelah evaluasi, kita gabung lagi dengan siaga. Lalu, setelah itu api unggun. Upacara dulu, lalu dilanjutkan dengan penampilan per-regu.

Setelah api unggun, tidur, deh. Tidur yang nyenyak ya.

Ketika bangun, kita sholat shubuh. Setelah itu, aku memasak air. Yang siaganya kita suruh nyeduh minuman hangat. Zahra dan Terra membersihkan ikan, karena waktu malam belum sempat dibersihkan. Selagi menunggu Zahra dan Terra, aku dan Nisrin membuat nasi dan menghangatkan soto untuk sarapan. Karena sotonya masih sisa, kita tidak usah memasak lagi deh. Jadi cepet. Yang lain masih masak, kita mah udah sarapan, dong.

Setelah prosesi itu selesai, kita ada kegiatan, nih. Jadi satu orang penggalang harus memilih satu anak siaga. Tapi yang bukan dari regunya juga tak apa-apa. Aku memilih Zainab saja, deh. Soalnya kan, dia udah agak gede. Jadi gampang diatur.

Nah, setelah semuanya sudah dapat pasangannya, kita berbaris dan berjalan.

Kita jalan.. jalan.. terus.. sesudah itu, kita menemukan barisan pohon. Pohon-pohonnya itu asli berbaris, lho. Tugasnya itu, nanti satu pasangan akan dipanggil dan mereka harus berlari   zig-zag. Waktunya hanya 20 detik.

Setelah itu, ada kayu gelondongan. Setiap pasangan harus melewati kayu itu dengan meloncatinya. Dan, loncatnya harus zig-zag. Dua rintangan itu berhasil aku lewati. Yang ketiga, kita balap lari per-pasangan. Yang kalah harus jongki.

Setelah selesai, kami boleh berenang lho!! Wah…. Airnya hangat lho. Kami berendam sepuasnya.

Setelah puas berenang, yang siaga kami suruh packing. Sedangkan yang penggalang memasak makan siang dan melipat tenda. Karena tendanya ada dua, kita lipat satu. Dan yang satu lagi kita pindahkan. Selagi kita beres-beres, siaga kami suruh makan duluan. Menunya adalah ikan goreng.

Setelah siaga makan siang, siaga pulang. Dan giliran kita makan siang.

Setelah makan siang dan siaga pulang, kami diberi waktu bebas sampai sore. Ada yang main, ada yang mengumpulkan kayu bakar, ada yang beres-beres, ada juga yang memasak. Daripada diam, aku disuruh Zahra untuk merebus kacang tanah untuk cemilan. Kacangnya banyak sekali.

Tiba-tiba, hujan deras. Dan air masuk ke tenda kita lewat bawah. Jadi deh, barang kita diungsikan ke tenda sebelah. Dan kita beres-beres tenda. Kita juga membuat parit di sekeliling tenda. Itu dilakukan agar air tidak rembes ke tenda.

Waktu Zahra dan Terra membuat parit, aku dan Nisrin memasak makan sore. Lauknya adalah sarden yang diberi sosis dan telur. Nyam.. nyam.. nyam..

Setelah urusan tenda selesai, kami makan sore dulu. Waktu itu, hari sudah gelap lho.

Setelah itu, kita katanya api unggun. Untungnya, waktu itu siaga sudah pulang. Jadi penggalang boleh evaluasi panjang. Dan, api unggun sekarang gak pakai upacara dulu. Jadi gak pakai lama.

Kita evaluasi sampai malam. Dan sesudah api unggun kita tidur deh.

Besoknya, kita langsung masak nasi goreng untuk sarapan. Setelah sarapan, kita segera beres-beres. Dan turun ke bawah untuk menunggu jemputan.

Yang membuat camping ini beda, adalah, pulangnya kita mampir dulu ke toko oleh-oleh. Hampir semua anak turun untuk belanja. Kata ka Ato, kalau camping itu oleh-olehnya pasti cucian. Maka, camping kali ini kita belanja dulu. Seruu sekali.

Alhamdulillah, aku bisa pulang ke rumah dengan selamat. Oke deh, sekian dariku. Salam pramuka!

Syakira Qonita

No Comments

Enroll Your Words

To Top