Taubatnya ‘Khansa. Wanita Tangguh Yang Ditinggal Syahid Empat Anaknya

Namanya Khansa. Nama aslinya adalah Tamadhur binti Amr. Namun, ia lebih sering dipanggil Khansa. Sebelum datang islam, ia sangat terkenal karena kepandaiannya dalam bersyair (berpuisi). Para pujangga sepakat, tidak ada wanita yang bisa bersyair sehebat Khansa.

Khansa mempunyai seorang saudara bernama Shakhr. Khansa sangat dekat dengan Shakhr karena ia terkenal dengan santun, murah hati, dan dicintai semua orang. Suatu hari, Shakhr meninggal dunia. Khansa pun menjadi sangat sedih. Ia bersyair dengan suara keras sambil mengelilingi kota Makkah.

Setiap hari, Khansa mencukur rambutnya dan menyobek-nyobek bajunya karena sedih ditinggal Shakhr. Setelah masuk islam pun, Khansa masih sering melakukan hal itu.

Banyak orang yang menegurnya, “Islam melarang itu.” Namun, Khansa tak memedulikannya. Ia masih sering melakukan kebiasaan jahiliyah. Karena Khansa sering melakukan kebiasaan jahiliyah, banyak orang yang membicarakannya. Khansa pun mengadu kepada Umar bin Khattab.

“Memang sangat susah menghilangan kesedihan. Apalagi ditinggalkan orang yang sangat dicintai dan baik hati. Akupun masih bersedih karena kepergian Zaid bin Khattab, saudaraku. Kau tak apa bersedih. Asal tidak meninggalkan sholat dan kewajiban yang lainnya.” Kata Umar bin Khattab.

Sampai suatu hari, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar datang menasihatinya. “Aku juga sangat sedih ditinggal kematian Rasulullah. Beliau manusia terbaik sepanjang masa. Aku berduka. Tetapi tidak sampai melanggar syariat islam.”

Khansa pun mengerti. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan kebiasaannya itu. Sekarang, ia sudah mulai berubah. Jika ada yang meninggal, Khansa tak akan meratap lagi seperti dulu.

Ada satu lagi kisah Khansa yang menarik. Yuk, baca.

Perang Qadisiyah akan berlangsung. Pasukan Persia akan menyerang kaum muslimin. Umar yang sedang menjabat jadi khalifah menunjuk Sa’ad bin Abi Waqash untuk menjadi pemimpin pasukan kaum muslim.

Khansa menyuruh keempat anak laki-lakinya untuk bergabung menuju medan perang. Anak-anaknya menurut. Mereka pergi ke medan perang dengan do’a dari ibunya.

Perang Qadisiyah pun berlangsung. Khansa terus mengirim do’a untuk keempat anaknya.

Ketika perang Qadisiyah berakhir, Khansa langsung mencari keempat anaknya. Ia bertanya kesana kemari. Namun, semua orang menggeleng.

Ternyata, keempat anaknya mati syahid. Khansa meras sedih, namun, ia menahan diri untuk tidak meratap.

“Semoga Allah menerima arwah mereka,” ujar salah seorang sahabat. “Usahakan sabar dan ikhlas menerima takdir Allah.”

Khansa hanya berujar, “Inanillahi wa inna ilaihi roji’un. Semoga nanti Allah menyatukan kami di tempat yang penuh rahmatnya.” Katanya sambil menahan air mata.

Itulah kisah Khansa. Dulunya, dia adalah wanita peratap yang selalu menangis. Namun, ketika Allah menyadarkannya, Khansa tetap tabah menerima anak-anaknya yang mati syahid demi membela agama Allah.

No Comments

Enroll Your Words

To Top